Media Sosial Bukan Produk Jurnalistik

Selasa, 03 Desember 2019 - 09:28:42 WIB
Dibaca: 56 kali

Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOTA) Untag Surabaya gelar Seminar Nasional dan Call for Paper Komunikasi, Kamis, (28/11/19)  di Graha Wiyata lantai 9 Untag Surabaya.

Abdul Kohar Direktur pemberitaan Medcom.id menanggapi beberapa pernyataan bahwa media sosial dikatakan dapat mengurangi keintiman dalam bermasyarakat dengan menjawab bisa iya dan bisa juga tidak. Bukan tanpa alasan, namun dalam hal tersebut menurutnya selalu ada istilah dua sisi mata uang yang berbeda dan bersinggungan, yang mana selalu ada dampak negatif dan positif.

Kohar menyebutkan bahwa media sosial akan mengurangi keintiman seseorang. ‘’Orang tersebut menjadi asik sendiri dengan media sosial sehingga mangabaikan orang di lingkungannya,’’ ucap Kohar dikegiatan yang bertemakan ‘’Mendefinisikan Kembali Identitas Budaya Indonesia’’ tersebut.

Di balik itu Kohar juga mengungkapkan keberadaan media sosial juga berdampak positif. ‘’Tetapi ketika media sosial menjadi pintu masuk bagi orang - orang untuk lebih giat berinteraksi sosial, maka tidak selamanya media sosial akan berdampak negative,’’ ujar pria yang lahir di Kertosono itu.

Selain itu Kohar juga menjelaskan terkait strategi Donald Trump melalui kekuatan media sosial dalam pemilihan Presiden Amreika Serikat. ‘’Tahun 2016 lalu, Presiden Amerika Serikat menggunakan media sosial untuk membuat berbagai informasi mulai dari yang agak benar, setengah benar, sampai informasi yang palsu. Hal itu dilakukan untuk menggiring opini masyarakat sehingga Donald Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat,’’ terang Kohar.

Informasi datang dari mana pun sehingga sulit membedakan mana informasi yang benar dan tidak. Salah satu petaka media sosial itu adalah banyaknya tersebar berita hoax. Tetapi apa boleh buat media sosial memang bukan produk jurnalistik. Saat ini masyarakat semakin menyatu dengan media sosial sehingga menjadi kekuatan yang luar biasa.

‘’Sebagai media mainstream, maka tugas kita mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap media mainstream yang teguh dengan prinsip jurnalistik,’’ ujar Kohar.

Di sisi lain, Dr. Muhamad Sulhan, M.Si Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) mengatakan bahwa saat ini di Indonesia terdapat 348 prodi Ilmu Komunikasi yang sebagian besar telah bergabung bersama ASPIKOM.

‘’Saya ingin sampaikan bahwa Substansi Ilmu Komunikasi menjadi hal yang penting dan itu telah disadari oleh semua orang. Elemen - elemen yang kami ajarkan pada prodi Ilmu Komunikasi akan menjadi sesuatu yang begitu substantif bagi bangsa ke dapannya,’’ kata Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Mada tersebut.