Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Feb
Perjalanan panjang hampir 30 tahun pengabdian akhirnya membawa Dosen Bambang Sigit memasuki masa purna tugas dari FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Sejak tahun 1997 mengawali langkah sebagai dosen luar biasa hingga resmi menjadi bagian dari keluarga besar Untag, ia menapaki jalan akademik dengan satu fondasi yang tak pernah berubah: pendekatan persuasi, cinta kasih, dan humanisme.
“Jika dihitung sejak 1997 sampai 2026 ini, sudah hampir 30 tahun saya mengabdi. Betapa rindunya hati saya terhadap kampus Untag ini,” tuturnya dengan nada haru. Bagi Bambang Sigit, kampus bukan sekadar tempat bekerja, tetapi rumah kedua yang menyimpan begitu banyak cerita batiniah.
Momen paling tak terlupakan baginya adalah ketika melihat anak didik yang ia bimbing dengan pendekatan humanis mampu tumbuh menjadi sosok yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia merasa bangga ketika mahasiswa yang dahulu dibimbingnya kini menduduki posisi penting dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. “Itu kebahagiaan seorang dosen,” ujarnya.
Tak hanya soal keberhasilan karier mahasiswa, ia juga mengingat perjuangan membantu mahasiswa yang mengalami hambatan akademik maupun non-akademik. Termasuk ketika menghadapi mahasiswa yang kesulitan finansial tanpa toleransi manajerial yang memadai. Baginya, dosen bukan sekadar pengajar materi, melainkan orang tua kedua yang wajib menanamkan adab dan memberi ruang empati.
Kedekatan emosional dengan mahasiswa dan alumni menjadi warna tersendiri dalam perjalanannya. Ia dikenal dekat dengan mahasiswa, bahkan kerap mengajak mereka “mblakrak”, naik gunung, mbolang, hingga sekadar nongkrong bersama. Hubungan itu tak terputus setelah wisuda banyak alumni yang tetap menjaga komunikasi dan kedekatan batin dengannya.
Di sisi lain, ia juga menjadi tempat curhat mahasiswa yang merasa tertekan secara akademik. Ia prihatin ketika mendapati mahasiswa yang sudah belajar optimal tetapi merasa tidak mendapat pendampingan maksimal. Menurutnya, sedikit sentuhan bimbingan yang tulus sering kali mampu menyelamatkan perjalanan studi seorang mahasiswa.
Kenangan hangat lainnya adalah kebersamaan para dosen senior di ruang dosen F203. Suasana harmonis, humor yang mengalir, hingga kebiasaan saling mentraktir dan makan bersama menjadi memori yang sulit tergantikan. “Sangat terasa sentuhan batiniah kita sebagai satu keluarga besar FISIP,” kenangnya.
Ia juga menyebut empat dosen muda yang berkesan baginya: Insan, Pak Novan, Bu Citra, dan Bu Nara. Menurutnya, mereka memiliki kepolosan hati dan empati tinggi. Bahkan dengan tulus ia mendoakan agar keempatnya kelak meraih derajat tertinggi dalam dunia pendidikan sebagai Guru Besar. Sebuah doa yang lahir dari ketulusan seorang senior kepada generasi penerusnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Bambang Sigit tak lupa mengenang sosok-sosok yang membentuk dirinya. Almarhum Bapak Hasan Bahanan yang menanamkan idealisme dosen sejak awal ia bergabung di Untag. Prof. Sam Abede Pareno yang mengenalkannya pada realitas seni dan budaya komunikasi. Dan secara khusus Prof. Teguh Priyo Sadono, guru yang ia muliakan sejak S1 hingga kini membimbingnya di Untag bahkan memiliki peran besar dalam perjalanan hidup pribadinya.
Ada pula kenangan bersama Bu Nova sejak masa mengajar D3 PR dan Bu Vika yang berjasa membantu proses administratifnya hingga resmi diterima sebagai dosen Untag. Setiap nama dan momen itu menjadi potongan mozaik perjalanan panjang pengabdian.
Memasuki masa purna tugas, Bambang Sigit belum benar-benar berhenti berkarya. Ia masih mengajar di jenjang Magister dan aktif di LSP KSP sebagai Fasilitator sekaligus Asesor Kompetensi BNSP. Baginya, pengabdian pada pendidikan tak berhenti hanya karena status formal pensiun.
Untuk masa depan FISIP Untag Surabaya, ia menitipkan harapan agar sistem manajemen terus diperbaiki, dilengkapi pedoman dan SOP yang rinci serta menyeluruh. Ketegasan dalam menjaga kualitas akademik dan perlindungan mahasiswa, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menjaga nama besar fakultas.
Pada akhirnya, warisan terbesar Bambang Sigit bukan sekadar angka masa kerja, melainkan nilai-nilai humanisme tanpa pilih kasih yang ia tanamkan kepada mahasiswa. Karena baginya, dosen adalah orang tua kedua yang tak hanya mengajar ilmu, tetapi juga menuntun adab dan kemanusiaan.
Purna tugas boleh tiba, tetapi jejak cinta dan ketulusan dalam mendidik akan selalu tinggal di hati FISIP Untag Surabaya.