26

Nov

#kenallebihdekat | Dr. Achluddin Ibnu Rochim, SH., M.Si.: Dosen yang Menganggap Mahasiswa sebagai Rekan Belajar

Surabaya — Bagi sebagian orang, menjadi dosen adalah profesi. Namun bagi Dr. Achluddin Ibnu Rochim, SH., M.Si., atau yang akrab disapa Pak Didin, mengajar adalah bentuk cinta terhadap almamater dan cara hidup yang dijalani dengan sepenuh hati.

Perjalanan kariernya dimulai dari bangku Fakultas Hukum UNTAG Surabaya, tempat ia menimba ilmu sekaligus menumbuhkan rasa memiliki yang mendalam terhadap kampus merah putih. “Saya dulu mahasiswa Fakultas Hukum UNTAG. Karena saya aktif mengelola tabloid kampus, saya punya ikatan emosional dengan almamater. Akhirnya saya dipekerjakan jadi staf, lalu disekolahkan lagi S2 di Administrasi Publik. Sejak saat itu, saya tidak pindah haluan,” kenangnya.

Kini, dengan gelar doktor di bidang Ilmu Administrasi Publik, Pak Didin dikenal sebagai sosok dosen yang rendah hati, humanis, dan dekat dengan mahasiswa. Ia menekankan bahwa hubungan dosen–mahasiswa bukan sekadar formalitas akademik, melainkan kemitraan dalam proses belajar.

“Saya ingin mahasiswa mengenang saya sebagai rekan belajar. Saya tidak mau menganggap mereka di bawah saya,” ujarnya tegas.

Filosofi ini tampak jelas dalam caranya mengajar. Setiap kali masuk kelas, Pak Didin selalu membuka sesi dengan bina kelas sebelum menyampaikan materi. “Saya tidak langsung ke materi. Saya ingin suasana kelas kondusif dulu,” tuturnya. Pendekatan ini menciptakan ruang dialog yang hangat dan setara.

Ia percaya bahwa proses belajar bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pertukaran gagasan. “Siapa bilang dosen yang membuat mahasiswa pintar? Kadang justru mahasiswa yang membuat dosen pintar lewat pertanyaan-pertanyaan mereka,” katanya sambil tersenyum.

Dalam pandangannya, pengetahuan tertinggi adalah kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu segalanya.

“Semakin kita belajar, semakin kita sadar ternyata banyak hal yang belum kita ketahui,” ucapnya. “Bagi saya, orang yang tahu kalau dirinya tidak tahu, itulah tanda kebijaksanaan.”

Pak Didin dikenal pula karena kepribadiannya yang santai dan penuh humor. Ia masih tertawa ketika mengingat pengalaman lucu bertahun lalu saat menanyakan honor yang sebenarnya sudah ditransfer. “Petugas HR sampai tertawa karena saya nggak ngecek ATM dulu,” kenangnya.

Di luar ruang kelas, dosen yang juga hobi bermusik dan berdiskusi ini gemar mengisi waktu dengan membuat forum-forum kecil bersama mahasiswa. Ia percaya bahwa aktivitas seperti itu membantu mengasah logika, empati, dan karakter berpikir kritis.

FISIP, bagi Pak Didin, bukan sekadar lembaga akademik, melainkan “pengawal peradaban.” Ia berharap mahasiswa FISIP tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga bijak dalam memaknai kehidupan. “Nasihat saya sederhana: belajarlah sepanjang hayat,” tutupnya dengan senyum hangat.

Dengan caranya yang nyentrik, interaktif, dan out of the box, Dr. Achluddin Ibnu Rochim adalah sosok pengajar yang tak hanya mencerdaskan pikiran, tapi juga menumbuhkan hati — seorang “rekan belajar” sejati bagi generasi muda FISIP UNTAG Surabaya.