Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Nov
Surabaya — Tidak semua perjalanan kuliah dimulai dengan rencana yang sempurna, begitu pula dengan kisah Reinsky, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Ia dengan jujur mengakui bahwa UNTAG bukan pilihan pertamanya, namun seiring waktu, kampus merah putih itu justru menjadi tempat ia menemukan ruang tumbuh dan mengasah karakter.
“Aku pilih UNTAG karena ketolak SNMPTN di UNAIR dan UB. Tapi aku pikir, ya sudah, nggak apa-apa. UNTAG ini one of the best kampus swasta di Surabaya, dan yang paling penting, affordable serta dekat dengan kantor mamaku,” ujarnya sambil tertawa kecil mengenang awal kuliahnya yang penuh cerita.
Meski awalnya sempat “drama” di hari pertama kuliah, Reinsky cepat beradaptasi dengan suasana kampus dan menemukan ritme belajarnya sendiri. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif bertanya dan suka duduk di depan kelas. Bukan tanpa alasan — selain karena matanya minus, ia juga punya strategi unik agar dikenal oleh dosen.
“Aku suka cari perhatian ke dosen, tapi bukan yang aneh-aneh. Tujuanku supaya dapat nilai lebih. Dan ternyata lumayan berhasil, nilainya aman sampai sekarang,” katanya sambil tersenyum bangga.
Namun di balik sisi humorisnya, Reinsky adalah pribadi yang penuh semangat dan tanggung jawab. Ia bekerja paruh waktu sebagai freelancer desain dan pembuat presentasi sejak semester awal. “Motivasi terbesarku ya orang tuaku. Mereka sudah bekerja keras untuk biayai kuliah dan hidupku di kos. Aku nggak mau ngecewain mereka,” tuturnya.
Dalam perjalanan kuliahnya, Reinsky juga punya pandangan yang hangat terhadap beberapa dosen yang menjadi inspirasinya. Ia menyebut Bapak Mohammad Insan Romadhan, S.I.Kom., M.Med.Kom. sebagai sosok yang paling berkesan.
“Pak Insan itu the best! Dari semester satu beliau udah ngajar. Orangnya asik, interaktif, dan humble banget. Gaya ngajarnya bikin suasana kelas hidup, tapi tetap ada wibawanya. Aku jadi semangat tiap kali beliau ngajar,” ucapnya penuh antusias.
Selain Pak Insan, ia juga menyebut Kak Nara dan Pak Doni sebagai dosen yang disukainya karena pendekatan mengajar yang khas. “Kalau Kak Nara itu kalem tapi jelas banget cara ngajarnya, bikin aku cepat paham. Kalau Pak Doni, ngajarnya itu ngajak kita mikir — bukan cuma dengerin,” tambahnya.
Tempat favoritnya di kampus pun sederhana: Wiyata dan Laboratorium Komunikasi. Di sanalah ia menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman sejak semester awal. “Di Wiyata itu udah kayak markas kami. Kalau di lab, adem dan tenang banget, cocok buat aku yang katanya ‘adem’ juga,” katanya sambil terkekeh.
Berbicara tentang masa depan, Reinsky ingin meninggalkan kesan positif di kampusnya.
“Aku pengin dikenal sebagai mahasiswa aktif yang punya karya sebelum lulus, dan nanti sebagai alumni sukses, kaya raya, tapi tetap rendah hati. Dikenal sebagai Reinsky yang baik hati, lugu, dan nggak sombong,” ujarnya penuh semangat.
Dengan kepribadiannya yang ekspresif, cerdas, dan pandai mengambil peluang, Reinsky menjadi gambaran nyata mahasiswa FISIP UNTAG Surabaya yang dinamis — generasi muda yang bukan hanya belajar di ruang kelas, tapi juga membangun karakter dan inspirasi dari setiap interaksi, termasuk dengan dosen-dosen yang ia kagumi.