Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Feb
Di balik kelancaran administrasi dan koordinasi kegiatan di FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, ada sosok yang bekerja dengan tenang namun penuh dedikasi. Ia adalah Rena Setyaningrum, Kasubag Umum FISIP, yang telah menjadi bagian dari perjalanan fakultas ini selama bertahun-tahun.
Perjalanan Rena di lingkungan kampus bermula bukan langsung sebagai tenaga kependidikan. Ia sebelumnya adalah mahasiswa Psikologi yang aktif menjadi asisten laboratorium. Pengalaman tersebut membawanya menjadi mahasiswa magang selama dua tahun. Hingga akhirnya, pada 2016, ia diangkat sebagai pegawai tetap dan membantu di Program Studi Magister Psikologi.
Kariernya kemudian berpindah ke Fakultas Hukum sebelum akhirnya pada akhir 2018 dipercaya mengemban amanah sebagai Kasubag Umum di FISIP UNTAG Surabaya hingga sekarang. Perjalanan yang bertahap itu membentuknya memahami ritme kerja lintas fakultas dan memperkaya pengalaman koordinasi administrasi kampus.
Ketika ditanya tentang kesan pertamanya datang ke kampus ini, Rena mengingat suasana yang dinamis namun hangat. Lingkungan akademik yang aktif, dengan ritme kerja yang terus bergerak, justru menjadi ruang belajar yang membuatnya bertumbuh. Kini, sebagai Kasubag Umum FISIP, ia memegang peran penting dalam memastikan roda administrasi fakultas berjalan dengan tertib dan terkoordinasi.
Bertahan hingga saat ini tentu bukan tanpa alasan. Bagi Rena, kunci kenyamanan bekerja di FISIP terletak pada kerja sama tim yang solid. “Kerja sama yang baik, saling membantu meringankan pekerjaan, mudah berkoordinasi sesama tim, dan saling menghargai,” ujarnya. Ia mengaku, bagian paling ia nikmati adalah ketika koordinasi dalam tim berjalan lancar—di situlah pekerjaan terasa lebih ringan dan bermakna.
Dalam kesehariannya, Rena banyak berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama Kepala Tata Usaha FISIP, Bapak Wahyudi. Ia menyebut beliau sebagai rekan kerja yang paling sering menjadi partner diskusi, bahkan teman “ngopi” sambil membicarakan laporan dan koordinasi terkait kebutuhan fakultas. Komunikasi yang intens menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas administrasi FISIP.
Sebagai pribadi yang memegang nilai budaya Jawa, Rena memiliki prinsip hidup yang selalu ia pegang: “Noto manah, madangno pikir, nunggang roso ngener ing panggayuh.” Sebuah pepatah yang berarti menata hati, menenangkan pikiran, dan melangkah dengan rasa yang jujur dalam setiap tujuan. Prinsip itu menjadi kompasnya dalam bekerja maupun menjalani kehidupan sehari-hari.
Sosok yang paling menginspirasi dalam hidupnya adalah sang ibu. Dari beliau, Rena belajar tentang keteguhan, kesabaran, dan kekuatan hati dalam menghadapi tantangan. Nilai-nilai itulah yang ia bawa dalam setiap tanggung jawab yang diembannya di FISIP.
Menurutnya, suasana kerja di FISIP memiliki kekhasan tersendiri. Nuansa kekeluargaan terasa kuat, sehingga memudahkan kerja sama, koordinasi, dan berbagi ilmu antarpegawai. Lingkungan yang suportif inilah yang membuatnya merasa betah dan terus berkomitmen memberikan kontribusi terbaik.
Di akhir perbincangan, Rena menyampaikan pesan untuk rekan-rekan tenaga kependidikan. “Terus bekerja dengan penuh rasa syukur, percaya, dan berikan yang terbaik dari versi diri kita,” pesannya. Sebuah kalimat sederhana, namun sarat makna tentang integritas dan ketulusan dalam bekerja.
Kisah Rena Setyaningrum menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah fakultas tidak hanya ditopang oleh akademisi dan mahasiswa, tetapi juga oleh tenaga kependidikan yang bekerja dengan hati. Dengan menata hati dan menenangkan pikiran, ia membuktikan bahwa pengabdian yang konsisten akan selalu menemukan jalannya untuk memberi arti.