07

Jan

#kenallebihdekat | Trio Ilkom yang Bertumbuh Bersama: Faellen, Syifa, dan Fifi dalam Ikatan yang Tak Sengaja Namun Bermakna

Surabaya — Di tengah dinamika perkuliahan FISIP UNTAG Surabaya, kisah persahabatan Faellen Yuan Dias Cercio (Fae), Syifa Naila Aura Purwantyas, dan Fifi Laili Chamidah menjadi potret hangat tentang kebersamaan yang tumbuh perlahan namun mengakar kuat. Bertemu sejak awal menjadi mahasiswa baru Ilmu Komunikasi, ketiganya tak pernah menyangka bahwa perkenalan sederhana akan menjelma menjadi ikatan yang bertahan hingga semester tujuh.

Faellen mengingat awal kebersamaan mereka bermula dari “ketidaksengajaan”. Ia lebih dulu berkenalan dengan Syifa sejak persiapan PKKMB, lalu bertemu Fifi ketika berada di kelas yang sama pada semester pertama. “Dengan karakter yang beda dan jomplang, kami nggak nyangka bisa bareng sampai sekarang,” tutur Faellen. Namun justru dari perbedaan itulah mereka belajar bertahan menyadari bahwa satu sama lain adalah tempat pulang di tengah kerasnya kehidupan kampus.

Di mata teman-teman, mereka dikenal sebagai “Trio”: Faellen kerap diposisikan sebagai “kakak pertama” yang tegas dan kuat di konsep, Syifa sebagai penengah yang rapi dan teliti dalam finishing, sementara Fifi menjadi “bungsu” yang menyusun dan merangkai hasil kerja. Pembagian peran ini berjalan alami, tanpa kesepakatan formal, namun efektif terutama saat mereka melewati fase penting bersama.

Momen paling berkesan bagi ketiganya terjadi ketika lolos Program Hibah. Dari situlah intensitas kebersamaan meningkat, komunikasi semakin terbuka, dan rasa saling percaya menguat. “Di era pertemanan yang susah dapat ketulusan, aku menemukannya dari Syifa dan Fifi,” kata Faellen. Mereka saling backup dalam kebaikan maupun kekurangan menjadi ruang aman untuk bercerita, menenangkan, memberi solusi, bahkan menangis dan emosi bersama. Sebuah roller coaster yang justru memperdalam empati.

Pengalaman akademik yang paling mengikat kembali kekompakan trio ini adalah mata kuliah Entrepreneurship. Mereka memulai dari nol: mencari ide, mengorbankan waktu dan tenaga, lalu bekerja sesuai porsi masing-masing. Hasilnya, semua berjalan mulus dan berakhir baik. Bagi Fifi dan Syifa, kebersamaan ini terasa seperti “satu frekuensi” dalam berpikir, bercanda, hingga menanggapi cerita tanpa gengsi dan tanpa saling menghakimi.

Konflik besar nyaris tak pernah hadir. Kalaupun ada perbedaan mood atau gesekan kecil, mereka memilih memberi waktu hingga siap saling terbuka. Tiga kata yang wajib hadir dalam pertemanan ini adalah “tolong, maaf, dan terima kasih”. Prinsip sederhana yang menjaga relasi tetap sehat.

Di balik perjalanan itu, peran dosen juga menjadi bagian penting. Ketiganya sepakat menyebut Mohammad Insan Romadhan sebagai “Papa” di kampus figur yang sabar menghadapi karakter mereka yang berbeda dan membuat mereka merasa memiliki orang tua di lingkungan akademik. Ada pula Hajidah Fildzahun Nadhilah Kusnadi yang mereka sapa “Ibun” to the point, tanpa basa-basi, dan sangat mengayomi. Sosok lain seperti Bu Nara yang soft spoken, Bu Citra yang santai dan meyakinkan, Pak Dana yang usil dan menghibur, serta Pak Kun dengan humor recehnya, turut membentuk suasana Ilkom yang hangat dan manusiawi.

Perubahan paling terasa bagi ketiganya adalah kedewasaan cara berpikir yang lebih kritis, keberanian bersikap, dan kemampuan saling memahami bahkan tanpa kata. “Kadang cuma dengan tatapan mata, kita sudah tahu,” ungkap Faellen. Proses panjang ini tidak mudah, namun justru menguatkan.

Syifa merangkum kebersamaan mereka dalam satu kalimat: “Tidak mungkin takdir mempertemukan kita tanpa sengaja.” Sementara Fifi menyebut perjalanan ini sebagai belajar yang penuh dinamika, tawa, dan saling menguatkan. Bagi mereka, FISIP bukan sekadar tempat belajar melainkan ruang bertumbuh bersama, tempat persahabatan menemukan maknanya.

Tags media