Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Apr
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali mengingat sosok Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan dalam memperoleh akses pendidikan dan kesetaraan peran. Namun, di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis, pertanyaan yang relevan untuk diajukan adalah: apakah semangat Kartini masih hidup dalam praktik kehidupan hari ini?
Bagi Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Mohammad Insan Romadhan, Hari Kartini tidak cukup dimaknai sebagai perayaan simbolik semata. Ia harus menjadi momentum reflektif untuk melihat sejauh mana perempuan hari ini benar-benar memiliki ruang untuk berkembang, berdaya, dan berkontribusi.
Menurutnya, perjuangan Kartini di masa lalu berfokus pada akses pendidikan dan pembebasan dari keterbatasan struktural. Sementara di era sekarang, tantangan yang dihadapi perempuan telah bergeser ke ranah yang lebih kompleks—mulai dari kompetisi di dunia kerja, representasi di ruang publik, hingga bagaimana perempuan memposisikan diri dalam ekosistem digital.
“Kesetaraan hari ini bukan lagi soal boleh atau tidak boleh sekolah. Tapi bagaimana perempuan mampu bersaing, berdaya, dan tetap memiliki identitas di tengah arus globalisasi dan digitalisasi,” ujarnya.
Dalam pandangannya, era digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk menunjukkan kapasitasnya. Platform media sosial, ruang kreatif digital, hingga peluang kerja berbasis teknologi menjadi ruang baru yang dapat dimanfaatkan secara strategis.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ruang digital bukan tanpa tantangan. Perempuan masih sering menghadapi bias, stereotip, hingga tekanan sosial yang tidak jarang menghambat ekspresi diri.
“Perempuan hari ini harus cerdas memanfaatkan teknologi, bukan sekadar menjadi pengguna, tetapi juga menjadi kreator dan penggerak perubahan,” tambahnya.
Di sinilah, menurutnya, pentingnya pendidikan yang tidak hanya membekali pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan daya kritis.
Sebagai institusi pendidikan, FISIP Untag Surabaya memiliki peran strategis dalam melanjutkan semangat Kartini. Tidak hanya melalui kurikulum, tetapi juga melalui ruang-ruang aktualisasi bagi mahasiswa perempuan untuk berkembang.
Di lingkungan FISIP, mahasiswa perempuan didorong untuk aktif dalam organisasi, penelitian, kompetisi, hingga kegiatan pengabdian masyarakat. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai peserta, tetapi juga sebagai pemimpin dan pengambil keputusan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menunjukkan potensinya,” jelasnya.
Menurutnya, semangat Kartini di kampus tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti keberanian berpendapat di kelas, aktif dalam diskusi, hingga mengambil peran dalam organisasi sudah menjadi bentuk nyata emansipasi.
Lebih jauh, Mohammad Insan Romadhan menekankan bahwa menjadi Kartini masa kini bukan berarti harus melakukan hal besar yang revolusioner. Justru dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten: berani bermimpi, berani belajar, dan berani mengambil peran.
“Setiap perempuan punya ruangnya masing-masing untuk berkarya. Yang penting adalah bagaimana mereka percaya pada dirinya sendiri dan terus berkembang,” tuturnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak hanya melihat Kartini sebagai figur sejarah, tetapi sebagai inspirasi yang hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia hari ini.
Hari Kartini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai perjuangan itu diterjemahkan dalam konteks kekinian. Di tengah dunia yang terus berubah, semangat Kartini tetap relevan—bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai energi untuk terus bergerak maju.
Dan di FISIP Untag Surabaya, semangat itu hidup dalam setiap ruang kelas, setiap diskusi, dan setiap langkah mahasiswa perempuan yang berani mengambil peran dalam membentuk masa depan.