Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Feb
Di tengah riuh perayaan kelulusan dan euforia mengenakan toga, ada satu pertanyaan yang kerap menghantui para fresh graduate: setelah ini, ke mana langkah akan diarahkan? Di tengah fenomena sulitnya mencari pekerjaan dan ketatnya persaingan di dunia profesional, kesiapan diri menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar.
Wakil Dekan FISIP Untag Surabaya, Mohammad Insan Romadhan, menilai bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk benar-benar berkarya di masyarakat. Menurutnya, tantangan utama lulusan hari ini bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi membuktikan kapasitas dan karakter diri di tengah kompetisi yang semakin kompleks.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan ijazah. Dunia kerja hari ini menuntut kompetensi, integritas, dan kemampuan adaptasi. Maka persiapan itu harus dimulai jauh sebelum wisuda,” ujarnya dalam sebuah perbincangan di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan mahasiswa adalah membangun kesadaran diri (self-awareness). Mengenali minat, potensi, dan arah karier menjadi fondasi awal sebelum berbicara tentang CV dan lamaran kerja. Tanpa itu, lulusan akan mudah terombang-ambing mengikuti arus.
Kedua, mahasiswa perlu aktif mengasah keterampilan praktis sejak di bangku kuliah. Bukan hanya memahami teori, tetapi terlibat dalam organisasi, magang, riset, pengabdian masyarakat, maupun pelatihan kompetensi. “Pengalaman adalah investasi. Dunia kerja melihat rekam jejak, bukan sekadar IPK,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun jejaring (networking). Relasi dengan dosen, alumni, maupun mitra institusi menjadi pintu pembuka peluang yang sering kali tidak diumumkan secara terbuka.
Sebagai bentuk komitmen institusi, FISIP Untag Surabaya telah menyiapkan sejumlah instrumen pendukung bagi mahasiswa agar lebih siap bersaing. Salah satunya melalui penerbitan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang memuat rekam jejak kompetensi, pengalaman organisasi, hingga aktivitas non-akademik mahasiswa selama menempuh studi.
“SKPI ini bukan sekadar dokumen administratif. Ini adalah representasi kapasitas diri mahasiswa. Di situ tergambar apa saja yang sudah dikerjakan dan dicapai,” jelasnya.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memiliki Sertifikat Kompetensi sesuai bidang keilmuan masing-masing. Sertifikasi ini menjadi bukti terukur bahwa lulusan tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki kemampuan teknis yang diakui.
Tak kalah penting, kemampuan bahasa asing turut menjadi perhatian. FISIP memfasilitasi English Score Test sebagai bagian dari standar kelulusan. Dalam konteks globalisasi dan persaingan lintas negara, kemampuan bahasa Inggris menjadi modal strategis untuk memperluas peluang karier.
Fenomena sulitnya mencari pekerjaan bukanlah sekadar isu personal, melainkan realitas struktural. Jumlah lulusan perguruan tinggi yang terus meningkat tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja. Ditambah lagi, banyak perusahaan kini menerapkan standar rekrutmen yang lebih selektif, menuntut pengalaman kerja bahkan untuk posisi entry level.
Di sinilah, menurut Wadek FISIP, pentingnya membangun mental tangguh dan pola pikir bertumbuh (growth mindset). Lulusan tidak boleh terpaku pada satu jenis pekerjaan atau satu jalur karier saja. Alternatif seperti wirausaha, kerja berbasis proyek, hingga membangun personal branding digital perlu mulai dipertimbangkan.
“Berkarya itu tidak selalu berarti menjadi pegawai. Mahasiswa FISIP dibekali kemampuan komunikasi, analisis kebijakan, manajemen, dan kepemimpinan. Itu semua bisa dikembangkan di berbagai sektor,” tegasnya.
Bagi Mohammad Insan Romadhan, ukuran keberhasilan bukan hanya cepat atau lambatnya mendapat pekerjaan, melainkan sejauh mana lulusan mampu memaknai proses dan terus mengembangkan diri.
Ia berpesan agar mahasiswa mulai menyiapkan diri sejak semester awal: aktif mencari pengalaman, mengikuti pelatihan, memperkaya portofolio, serta menjaga reputasi akademik dan etika.
“Ketika lulus nanti, Anda tidak sedang membawa selembar ijazah saja. Anda membawa identitas, kompetensi, dan nilai-nilai yang ditempa selama di FISIP. Maka siapkan diri dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.
Di tengah ketidakpastian dunia kerja, satu hal menjadi jelas: kesiapan bukanlah sesuatu yang hadir tiba-tiba saat wisuda, melainkan hasil dari proses panjang yang direncanakan dan dijalani dengan kesadaran. Dan di FISIP Untag Surabaya, proses itu telah dirancang untuk membentuk lulusan yang bukan hanya siap bekerja, tetapi siap berkarya.