Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Mar
Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di lingkungan kampus. Ritme aktivitas melambat, energi diuji, namun semangat untuk menuntut ilmu tetap menyala. Di tengah suasana tersebut, para dosen memiliki tantangan tersendiri: memastikan pembelajaran tetap efektif, tanpa mengabaikan kondisi fisik mahasiswa yang sedang berpuasa.
Bagi Muhammad Roisul Basyar, Dosen Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Ramadan bukan alasan untuk menurunkan kualitas pembelajaran. Justru sebaliknya, bulan ini menjadi momentum untuk menguatkan kedekatan dan empati dalam proses belajar-mengajar.
Dalam mengatur jadwal dan materi selama Ramadan, ia memilih strategi yang sederhana namun terukur. Durasi penyampaian materi dibuat lebih ringkas, tanpa mengurangi substansi yang harus dipahami mahasiswa sesuai Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK).
“Materi saya sampaikan lebih cepat, tapi tetap fokus pada inti yang wajib dipahami mahasiswa,” ujarnya.
Baginya, efektivitas bukan soal panjangnya waktu mengajar, melainkan ketepatan dalam menekankan konsep kunci. Dengan pola ini, mahasiswa tetap mendapatkan esensi pembelajaran tanpa merasa terbebani secara fisik.
Salah satu tantangan terbesar saat Ramadan, terutama di kelas sore hari, adalah menjaga konsentrasi mahasiswa. Untuk itu, ia melakukan penyesuaian metode pengajaran dengan meningkatkan intensitas interaksi.
Setiap satu slide materi, ia melakukan review secara acak kepada mahasiswa. Cara ini bukan sekadar menguji pemahaman, tetapi memastikan mahasiswa tetap fokus menyimak.
“Proses review setiap satu slide membantu menjaga perhatian mahasiswa. Mereka jadi tidak hanya mendengar, tetapi juga terlibat,” jelasnya.
Pendekatan ini menciptakan suasana kelas yang lebih hidup. Mahasiswa terdorong untuk aktif, bukan pasif, meskipun dalam kondisi berpuasa.
Untuk menjaga motivasi, terutama di jam-jam rawan menjelang berbuka, ia kerap menyisipkan pengalaman pribadinya. Ia menceritakan masa ketika harus berpuasa sambil bekerja dan kuliah saat menempuh pendidikan S1.
Pengalaman tersebut bukan untuk membandingkan, melainkan untuk memberi contoh bahwa fase lelah dan berat adalah bagian dari proses.
“Saya ingin mahasiswa tahu bahwa dosen juga pernah berada di posisi mereka. Pernah lelah, pernah harus membagi energi antara kuliah, kerja, dan ibadah,” tuturnya.
Kisah-kisah personal itu menjadi jembatan emosional yang membuat mahasiswa merasa dipahami. Ada kedekatan yang tumbuh bukan hanya sebagai relasi akademik, tetapi sebagai sesama pejuang proses belajar.
Strategi lain yang ia lakukan adalah mengenali mahasiswa secara personal sejak awal perkuliahan. Ia menanyakan asal daerah masing-masing mahasiswa, lalu mengaitkannya dengan pengalaman pribadinya ketika berkunjung ke daerah tersebut.
Pendekatan ini menciptakan kedekatan kedaerahan yang hangat. Bahkan dalam penyampaian materi, contoh kasus sering diarahkan pada konteks daerah asal mahasiswa.
“Ketika materi dikaitkan dengan daerah mereka, mahasiswa merasa lebih dekat dan lebih mudah memahami,” ungkapnya.
Interaksi semacam ini membuat kelas tidak terasa kaku. Ramadan justru menjadi ruang untuk memperkuat nilai empati dan kebersamaan dalam belajar.
Menjalankan peran sebagai dosen sekaligus menjaga kualitas ibadah tentu membutuhkan manajemen waktu yang disiplin. Ia memilih menyelesaikan sebagian besar kewajiban akademik pada pagi hari.
“Meskipun jadwal mengajar saya di siang hari, saya berangkat ke kampus sebelum jam 8 pagi. Pagi hari energi masih penuh, jadi pekerjaan bisa lebih teratur,” jelasnya.
Strategi ini membantunya menjaga ritme kerja tanpa mengorbankan fokus ibadah di bulan Ramadan.
Di tengah suasana puasa, kelas-kelas di FISIP tetap berjalan dengan semangat yang sama: semangat berbagi ilmu dan pengalaman. Bagi Muhammad Roisul Basyar, Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan untuk menumbuhkan empati, kedekatan, dan keteladanan dalam ruang-ruang pembelajaran.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, melainkan juga tentang menanamkan nilai—termasuk nilai ketekunan, kedisiplinan, dan ketulusan menjalani peran, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai pendidik.