Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Des
FISIP UNTAG Surabaya — Program Studi Ilmu Komunikasi kembali menggelar agenda tahunannya, NEGERI KOMUNIKASI 2025, sebuah perayaan kreatif yang menjadi ruang ekspresi, reuni gagasan, dan ajang temu lintas generasi mahasiswa Ilkom. Tahun ini, ada banyak hal berbeda yang membuat acara tersebut terasa punya karakter baru—lebih santai, lebih dekat dengan publik, namun juga lebih menantang dari sisi penyelenggaraan.
Melalui rubrik #SepotongPikiran, dua penggerak utama kegiatan ini, Nur Aini Alif W. (Koor Acara Negeri Komunikasi 2025) dan Siti Aisah/Ica (Wakil Ketua HIMAKOTA), berbagi cerita tentang tantangan, nilai, dan harapan besar terhadap acara yang telah menjadi identitas Prodi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya ini.
Sebagai panitia dua tahun berturut-turut, Nur Aini langsung merasakan perbedaan atmosfer.
“Negkom 25 ini lebih santai dan bisa dinikmati. Kalau tahun 24 rasanya gedebak-gedebuk, sampai nggak bisa menikmati acaranya sama sekali,” ungkapnya.
Tahun ini, NEGERI KOMUNIKASI memang mengusung suasana yang lebih rileks, tanpa mengurangi esensi perayaan ulang tahun Ilmu Komunikasi.
Ica menambahkan bahwa perbedaan paling mencolok adalah tema besar yang diangkat:
“Tahun ini kita mengangkat tema timeless—waktu. Kita memamerkan karya 6 tahun ke belakang dari Negeri Komunikasi. Jadi sekaligus napak tilas perjalanan Ilkom.”
Tahun ini, NEGERI KOMUNIKASI kembali diadakan di luar kampus. Aini menyebut alasan sederhana namun bermakna:
“Kita ingin mencari esensi di luar kampus, dan ini juga penutup semua proker.”
Sementara bagi Ica, keputusan ini strategis:
“Kita ingin keluar dari zona nyaman. Kalau di luar kampus, exposure-nya lebih luas. Orang umum bisa ngerasain NEGERI KOMUNIKASI, bukan cuma anak kampus.”
Keputusan ini membuat acara lebih terbuka dan inklusif, menghadirkan suasana yang berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya.
Salah satu inovasi tahun ini adalah menghadirkan penampilan dari siswa SMA.
Aini menjelaskan:
“Tujuannya untuk memperkenalkan Ilkom UNTAG dan membantu mereka menyalurkan bakatnya.”
Ica memperkuat pandangan ini:
“Selain nambah warna acara, ini cara halus ngenalin kampus ke mereka. Siapa tahu jadi tertarik lanjut kuliah ke sini.”
Strategi ini menjadi bentuk branding kreatif bagi Prodi Ilmu Komunikasi, dengan menggandeng calon mahasiswa sejak dini.
Keduanya sepakat bahwa tahun ini panitia benar-benar diuji.
Aini mengatakan:
“Di bagian dana sih. Kita harus pontang-panting cari sponsor tanpa bantuan prodi.”
Ica menambahkan:
“Mulai dari perizinan, koordinasi, sampai meyakinkan banyak pihak bahwa acara ini tetap serius. Kita harus buktiin kalau NEGERI KOMUNIKASI tetap punya value meskipun berdiri mandiri.”
Hal ini menciptakan rasa solidaritas antarpanitia dan memberi pengalaman berharga dalam manajemen event.
Walaupun tidak ada karya praktikum yang dipamerkan, keduanya memastikan bahwa karakter Ilkom tetap hadir.
Ica menjelaskan:
“Kita tetap ingin nunjukin identitas anak Ilkom dari cara kita ngerancang konsep, bikin ruang kumpul, diskusi, dan hiburan yang relevan sama anak muda.”
NEGERI KOMUNIKASI menjadi bukti bahwa kreativitas Ilkom tidak hanya hadir lewat karya visual, tapi juga lewat gagasan dan eksekusi acara.
Aini mengakui tantangannya:
“Menurut saya susah ngajak orang datang, tapi Puji Tuhan, kemarin acaranya rame walaupun nggak yang rame banget. Tenant pun happy dagangannya laris.”
Ica menambahkan sisi yang berbeda:
“Cukup susah, terutama ngajak mahasiswa sendiri. Mereka banyak agenda. Jadi panitia harus bikin acara ini relevan dan worth it buat didatengin.”
Bagian awarding dosen tetap dipertahankan.
Aini mengatakan:
“Sebagai bentuk apresiasi kita kepada dosen.”
Ica menambahkan:
“Ini momen hangat antara mahasiswa dan dosen. Nggak cuma soal mengajar, tapi kedekatan dan perhatian.”
Aini menjawab tegas:
“Tahun ini.”
Sementara Ica memberikan pandangan reflektif:
“Mungkin nggak lebih ramai, tapi lebih bermakna. Tantangannya besar, prosesnya berat. Keseruannya terasa bukan cuma di acara, tapi juga di perjuangan di balik layar.”
Aini berharap acara ini semakin dikenal luas:
“Lebih dikenal banyak orang, lebih rame, lebih heboh.”
Ica menambahkan harapan jangka panjang:
“Semoga makin konsisten, makin berani beda, dan jadi acara yang ditunggu tanpa harus ada kewajiban buat datang.”
NEGERI KOMUNIKASI 2025 membuktikan bahwa kreativitas, kebersamaan, dan keberanian keluar dari zona nyaman adalah jantung dari Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya.
Dengan segala tantangannya, acara ini tetap berdiri sebagai ruang merayakan identitas, sejarah, dan masa depan komunikasi yang terus berkembang.